CAKAPBISNIS.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat koreksi 7,03% secara point-to-point sepanjang pekan ini, dengan investor asing membukukan jual bersih Rp 3,06 triliun. Tekanan jual berlanjut ke hampir seluruh sektor, meninggalkan valuasi indeks di level 10,76 kali Price-Earnings Ratio (P/E) per Jumat (30/10/2026). Posisi valuasi itu menjadi acuan apakah pasar sudah cukup murah untuk rebound pekan depan.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat IHSG melemah 7,03% secara point-to-point sepanjang perdagangan pekan ini. Koreksi tersebut berlangsung di tengah arus keluar dana asing yang belum berhenti, dengan posisi investor asing sepanjang minggu ini jual bersih (net sell) Rp 3,06 triliun.
Pelemahan indeks membuat valuasi pasar turun. Per Jumat (30/10/2026), IHSG diperdagangkan di level 10,76 kali berdasarkan Price-Earnings Ratio (P/E). Dari pendekatan Price-Book Value (P/B), valuasi indeks berada di 1,32 kali.
Saham Batu Bara dan Telekomunikasi Jadi Penekan Terbesar
Tekanan indeks pekan ini datang dari sejumlah saham berkapitalisasi besar. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi penekan terbesar dengan kontribusi pengurangan 26,2 poin terhadap IHSG. Disusul PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang mengurangi 23,94 poin.
Dua saham energi Barito Group juga masuk daftar top laggards. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengurangi 22,72 poin, sementara PT Barito Pacific Tbk (BRPT) memangkas 21,58 poin. PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) melengkapi daftar dengan pengurangan 16,9 poin.
- BYAN: mengurangi 26,2 poin
- TLKM: mengurangi 23,94 poin
- BREN: mengurangi 22,72 poin
- BRPT: mengurangi 21,58 poin
- MORA: mengurangi 16,9 poin
Valuasi 10,76 Kali P/E, Sinyal Murah atau Jebakan?
Level P/E 10,76 kali menempatkan IHSG di zona valuasi yang relatif rendah dibandingkan rata-rata historis beberapa tahun terakhir. Namun koreksi tajam dalam satu pekan biasanya mencerminkan kekhawatiran yang lebih dalam daripada sekadar koreksi teknikal.
Arus net sell asing Rp 3,06 triliun menunjukkan investor global masih memilih mengurangi eksposur di pasar saham Indonesia. Tanpa pembalikan arus dana asing, ruang rebound indeks pekan depan cenderung terbatas meski valuasi sudah tertekan.
Yang Perlu Dicermati Investor Pekan Depan
Bagi investor, dua indikator utama yang perlu dipantau adalah keberlanjutan net sell asing dan pergerakan saham-saham penekan indeks. Jika BYAN, TLKM, dan saham Barito Group kembali melemah, tekanan ke IHSG berpotensi berlanjut.
Sebaliknya, valuasi P/B di 1,32 kali bisa menjadi pijakan bagi investor jangka panjang yang mencari saham dengan harga relatif murah. Tetap disiplin pada rencana alokasi dan jangan mengejar rebound tanpa konfirmasi arus dana asing yang berbalik arah.