CAKAPBISNIS.COM — Yokogawa Engineering Asia meraih hibah S$4,2 juta dari Energy Market Authority (EMA) Singapura melalui program Energy Grid 3.0 Grant Call. Dana riset itu dipakai menguji layanan stabilitas jaringan listrik di fasilitas pengolahan sampah menjadi energi, proyek percontohan pertama di Singapura. Uji coba ini menyasar salah satu persoalan utama transisi energi: menjaga pasokan tetap stabil saat porsi energi terbarukan makin besar.
Yokogawa Engineering Asia memimpin konsorsium yang terdiri dari National University of Singapore (NUS), Singapore Institute of Technology (SIT), dan Rexus Bioenergy Pte Ltd (RExus). Proyek berjudul "Distributed Inertia Provision from Conventional and Inverter Interfaced Assets" itu menjadi bagian dari Future Grid Capabilities Roadmap yang disusun EMA.
Hibah dikelola Advanced Energy and Decarbonisation Office (AEDO) di bawah Agency for Science, Technology and Research (A*STAR). Tanggung jawab administrasi program beralih dari EMA ke AEDO pada 1 Agustus 2026.
Mengapa Stabilitas Jaringan Jadi Taruhan
Sektor ketenagalistrikan menyumbang sekitar 40% total emisi Singapura. Angka itu membuat listrik menjadi titik krusial untuk mencapai target Net Zero Emission pada 2050.
Seiring porsi energi terbarukan meningkat, kebutuhan akan solusi penjaga stabilitas jaringan ikut membesar. Eugene Toh, Assistant Chief Executive (Energy Technologies) EMA, menyebut kebutuhan itu sebagai konsekuensi langsung dari pergeseran bauran energi.
Proyek Yokogawa menguji pendekatan berbeda. Fasilitas industri seperti pabrik pengolahan hingga pusat data tidak lagi diposisikan sekadar sebagai konsumen energi, tetapi juga penopang keandalan jaringan.
Dari Pengolahan Sampah ke Layanan Jaringan
Lokasi uji coba dipilih di fasilitas pengolahan sampah menjadi energi. Di sana, layanan stabilitas jaringan akan diuji pada aset konvensional maupun aset yang terhubung lewat inverter.
Secara teknis, proyek ini mengintegrasikan Convera Power Plant Controller (PPC) dari BaxEnergy dengan OpreX Collaborative Information Server (CI Server) milik Yokogawa. Kombinasi itu dipakai untuk pengambilan keputusan real-time dan pengembangan layanan jaringan otonom.
John Chen, Direktur Eksekutif AEDO, menempatkan kolaborasi industri dan riset sebagai kunci menjawab tantangan energi Singapura.
"Melalui pendanaan R&D dari pemerintah, kami ingin mendorong kemitraan yang mengubah teknologi potensial menjadi penerapan praktis," ujarnya.
Jejak bagi Kawasan Asia Tenggara
Proyek ini juga menandai langkah konkret Sustainability Incubation Hub milik Yokogawa, yang diluncurkan di Singapura pada 2024 untuk mempercepat inovasi teknologi iklim.
Chay Kin Wah, President & CEO Yokogawa Engineering Asia, menyebut hasilnya diarahkan agar bisa dipakai lebih luas dari Singapura.
"Bersama para mitra, kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya lebih tangguh dan berkelanjutan bagi sistem energi Singapura pada masa depan, namun juga dapat diterapkan di kawasan Asia Tenggara, Oseania, dan Taiwan," kata Chay.
Bagi negara dengan bauran energi terbarukan yang terus naik, termasuk Indonesia, persoalan yang diuji Yokogawa bukan hal jauh. Stabilitas jaringan menjadi syarat agar penambahan kapasitas surya dan angin tidak mengorbankan keandalan pasokan.