BRI Kucurkan Kredit Rp 1.645 Triliun, 44 Persen KUR ke Sektor Pangan

BRI Kucurkan Kredit Rp 1.645 Triliun, 44 Persen KUR ke Sektor Pangan
Kredit BRI mencapai Rp 1.645 triliun hingga akhir Triwulan II 2026 dengan 75,1 persen disalurkan ke segmen UMKM.

CAKAPBISNIS.COM — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat portofolio kredit Rp 1.645 triliun hingga akhir Triwulan II 2026, dengan sekitar 75,1 persen disalurkan ke segmen UMKM. Porsi terbesar pembiayaan KUR BRI menyasar sektor pertanian dan perikanan, sejalan dengan agenda swasembada protein yang digenjot pemerintah. Penyaluran kredit yang menyentuh hulu hingga hilir rantai pangan itu menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan nasional.

Angka itu terungkap dalam CNN Indonesia Agrifood Forum 2026 bertema "Swasembada Protein di Tengah Tantangan Pangan Global" di Jakarta, Senin (19/10/2026). Forum tersebut menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, serta Wakil Menteri Pertanian Saleh Mustafa.

KUR Pangan Menyerap Porsi Terbesar

Dari sisi penyaluran Kredit Usaha Rakyat, sekitar 44 persen pembiayaan sepanjang Triwulan II 2026 diarahkan ke sektor pertanian dan perikanan. Dua sektor itu dinilai paling menentukan dalam memperkuat ekosistem pangan dan protein nasional.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan porsi kredit UMKM tidak boleh turun di bawah 75 persen. Menurut dia, pendekatan BRI tidak berhenti pada pemberian kredit, tetapi menyambungkan seluruh mata rantai usaha pangan.

"Kalau kita bicara pembiayaan, BRI itu mulai dari orang yang baru punya niat untuk memulai usaha sampai dengan yang sudah besar. Jadi dari sisi ultramikro ada PNM, kemudian Pegadaian, lalu masuk ke segmen mikro, kecil, sampai korporasi. Ini yang membuat kami bisa melihat ekosistem secara lebih menyeluruh," ujar Akhmad dalam forum tersebut.

Dari Benih sampai Distributor

Kebutuhan modal di sektor pangan tidak berhenti di tahap produksi. Menurut Akhmad, pembiayaan dibutuhkan mulai dari hulu seperti penyediaan benih, pakan, dan peningkatan kapasitas produksi. Di tahap pengolahan, dana dipakai untuk investasi, pengemasan, dan modal kerja. Sementara di hilir, pembiayaan menyasar distributor, pedagang, hingga kebutuhan persediaan.

Contohnya ekosistem peternakan sapi perah di Malang. BRI membiayai peternak sebagai produsen, mendukung koperasi yang punya fasilitas cold storage, sekaligus membiayai industri atau offtaker yang menyerap hasil produksi. Pembiayaan tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan rantai nilai yang menciptakan kesinambungan usaha.

Untuk menjangkau pelaku usaha hingga ke akar, BRI mengerahkan sekitar 30 ribu tenaga pemasar lapangan. Mereka punya spesialisasi di sektor peternakan, perikanan, pertanian, dan perdagangan.

"Dari awal kita sudah bisa masuk. Kita bisa membiayai dari hulu, kemudian prosesnya, sampai ke hilir. Jadi bukan hanya soal memberikan kredit, tetapi bagaimana pembiayaan itu bisa membuat ekosistem usahanya tumbuh," kata Akhmad.

Nelayan Jadi Prioritas Pemerintah

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menekankan swasembada pangan bukan sekadar urusan pemenuhan kebutuhan domestik. Menurut dia, agenda itu berkaitan langsung dengan kedaulatan nasional.

Zulkifli meminta keberpihakan kepada pelaku usaha di tingkat paling bawah, terutama nelayan dan pembudidaya ikan. Dukungan infrastruktur seperti cold storage serta akses pembiayaan dinilai krusial untuk menaikkan produktivitas dan kesejahteraan mereka.

"Nelayan, dia paling menderita, dia paling miskin, kami harus pikirkan dia dulu," ujar Zulkifli.

Senada dengan itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menilai sektor perikanan berperan strategis dalam pemenuhan protein masyarakat. Inovasi pengolahan produk perikanan disebut jadi kunci agar sumber protein itu bisa dikonsumsi lebih luas dan terjangkau.

"Kalau dari ikan tidak usah ditanya, hampir seluruhnya," ujar Trenggono.

Bagi BRI, pembiayaan pangan bukan sekadar mengejar pertumbuhan kredit. Penyaluran diarahkan untuk memperkuat konektivitas antarpelaku dalam rantai pasok, dari peternak di Malang hingga pedagang di pasar. Pendekatan itu menjadi pembeda BRI di tengah persaingan pembiayaan sektor produktif, sekaligus mempertegas posisinya sebagai penopang utama UMKM nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index