IHSG Menguat ke 5.090 saat Rupiah Tertekan Rp 18.150 per Dolar AS

IHSG Menguat ke 5.090 saat Rupiah Tertekan Rp 18.150 per Dolar AS
IHSG menguat ke level 5.090 pada pembukaan sesi II, Senin (2/11).

CAKAPBISNIS.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik ke zona hijau dan bertengger di level 5.090 pada pembukaan perdagangan sesi II, Senin (2/11). Penguatan indeks berjalan berlawanan arah dengan nilai tukar rupiah yang masih terkoreksi ke Rp 18.150 per dolar AS.

Pergerakan dua arah ini menjadi sorotan pelaku pasar. IHSG mampu keluar dari tekanan meski rupiah nyaris menyentuh Rp 18.200 per dolar AS. Kondisi itu menunjukkan pasar saham dan pasar valas merespons sentimen yang berbeda pada hari yang sama.

Pembukaan sesi II menjadi titik balik indeks. Sebelumnya, IHSG bergerak di zona merah, lalu berbalik naik hingga menembus level 5.090. Sementara itu, rupiah belum berhasil melepaskan diri dari tekanan dan masih bertahan di kisaran Rp 18.150 per dolar AS.

Mengapa IHSG dan Rupiah Bergerak Berlawanan?

Pergerakan IHSG ke zona hijau ditopang oleh aksi beli pada saham-saham tertentu. Analis menilai ada sentimen yang membuat sebagian investor kembali masuk ke pasar modal, meski tekanan di pasar valas belum mereda.

Di sisi lain, rupiah masih menghadapi tekanan eksternal. Pelemahan mata uang domestik mendorong sebagian pelaku pasar memilih bertahan di aset dolar AS ketimbang menempatkan dana di instrumen berdenominasi rupiah.

Kepala FX Analyst CNBC Indonesia, Elvan Chandra Widyatama, membahas pergerakan pasar modal RI dalam program Power Lunch CNBC bersama Shania Alatas. Diskusi itu menyoroti arah IHSG, tekanan rupiah, dan sektor yang masih menjanjikan di tengah kondisi pasar saat ini.

Sektor Apa yang Masih Prospek?

Pertanyaan soal sektor yang masih prospek menjadi bagian penting pembahasan. Di tengah tekanan rupiah, investor perlu mencermati sektor yang relatif tahan terhadap pelemahan kurs maupun yang justru diuntungkan olehnya.

Saham-saham berorientasi ekspor biasanya menjadi perhatian ketika rupiah melemah, karena pendapatan dalam dolar AS ikut meningkat saat dikonversi ke rupiah. Sebaliknya, emiten yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi tekanan biaya.

Namun, pilihan sektor tidak bisa dilepaskan dari kondisi likuiditas pasar dan arus modal asing. Selama rupiah masih tertekan, investor cenderung selektif dalam menempatkan dana di pasar saham domestik.

Apa Artinya bagi Investor Ritel?

Bagi investor ritel, kombinasi IHSG yang menguat dan rupiah yang melemah menuntut kehati-hatian. Kenaikan indeks tidak otomatis berarti seluruh saham ikut naik, sehingga pemilihan emiten menjadi kunci.

Investor yang memegang saham berdenominasi rupiah juga perlu memperhitungkan dampak pelemahan kurs terhadap daya beli dan kinerja emiten. Emiten dengan utang valas menjadi kelompok yang paling rentan saat rupiah tertekan.

Di sisi lain, level IHSG di 5.090 masih memberi ruang bagi investor jangka panjang untuk mencermati saham-saham yang Fundamental-nya kuat. Pendekatan bertahap atau dollar cost averaging dinilai lebih aman ketimbang masuk sekaligus di tengah volatilitas kurs.

Pergerakan IHSG ke 5.090 di tengah rupiah yang nyaris Rp 18.200 per dolar AS menunjukkan pasar saham dan pasar valas sedang membaca sentimen yang berbeda. Bagi investor, arah kurs tetap menjadi variabel yang perlu dipantau sebelum menambah posisi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index