CREA: 83 Persen Nikel Indonesia Masuk Rantai Pasok Baja, Bukan Baterai EV

Kamis, 05 November 2026 | 19:03:01 WIB
Produksi nikel Indonesia pada 2025 tercatat 83 persen diserap industri baja nirkarat dan 17 persen untuk kendaraan listrik menurut analisis CREA.

CAKAPBISNIS.COM — Sebanyak 83 persen produksi nikel Indonesia pada 2025 masuk ke rantai pasok baja nirkarat alias stainless steel, menurut analisis lembaga think tank Center for Research on Energy and Clean Air (CREA). Hanya 17 persen yang diserap industri kendaraan listrik. Temuan ini mempertanyakan kesesuaian narasi "nikel hijau" Indonesia dengan kebutuhan pasar sebenarnya.

Jakarta — Megaproyek hilirisasi nikel Indonesia kembali jadi sorotan. Analisis CREA terhadap data industri yang terbuka untuk publik menemukan bahwa sebagian besar produk nikel Tanah Air berakhir di industri baja nirkarat, bukan baterai kendaraan listrik sebagaimana ambisi awal program hilirisasi.

Baja Nirkarat Menyerap 83 Persen Produksi Nikel

CREA mencatat hanya 17 persen produksi nikel Indonesia pada 2025 yang masuk rantai pasok kendaraan listrik. Sisanya, 83 persen, diserap sektor baja nirkarat atau stainless steel.

Organisasi riset independen itu menilai data tersebut menunjukkan ketidaksesuaian narasi pemasaran "nikel hijau" Indonesia dengan permintaan pasar yang sebenarnya. Di pasar global, baja nirkarat masih banyak dipakai sebagai komponen kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE).

CREA menyimpulkan kondisi ini dapat menjauhkan Indonesia dari klaim nikel hijau yang selama ini digaungkan.

Pemerintah: Baterai EV Masih Tahap Awal

Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi Heldy Satrya Putera menjelaskan, pemerintah mendorong pemanfaatan nikel untuk dua sektor sekaligus: baterai kendaraan listrik dan industri baja nirkarat.

"Kami memang mau mendorong kedua itu. Hanya tadi, persoalannya adalah industrinya (baterai kendaraan listrik) masih di tahap awal. Kami berharap industri untuk yang selanjutnya, kami ingin nanti end product-nya sudah terbangun di Indonesia," kata Heldy di sela Forum Mineral Kritis Multipihak Indonesia 2026, Kamis (5/11).

Heldy menegaskan kedua industri memakai jenis nikel yang berbeda. Menurut dia, pasokan nikel untuk baja nirkarat tidak akan menggerus kebutuhan baterai kendaraan listrik.

Klaim Investasi dan Rencana ke Depan

Menurut Heldy, kebijakan larangan ekspor bijih nikel sudah mendatangkan investasi untuk industri baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik. Ke depan, pemerintah berharap industri baterai penyimpanan energi untuk pembangkit listrik tenaga surya juga terbangun di dalam negeri.

"Jadi perkembangan hilirisasi dari mineral kritis Indonesia sudah sangat signifikan," ujarnya.

Soal Emisi: Hilirisasi Masih Bergantung Batu Bara

CREA menyoroti sisi lain hilirisasi nikel Indonesia yang masih bergantung pada sumber energi beremisi tinggi seperti batu bara. Tanpa pemisahan industri nikel dari batu bara, dekarbonisasi dan klaim nikel hijau Indonesia akan sulit diterima di pasar internasional.

Catatan itu menjadi penting karena baja nirkarat yang menyerap mayoritas produk nikel justru lekat dengan kendaraan bermesin pembakaran internal, sektor yang ingin ditekan lewat transisi energi.

Penutup: Temuan CREA dan penjelasan pemerintah sama-sama menunjuk satu titik: arah hilirisasi nikel belum sepenuhnya sejalan dengan target ekosistem kendaraan listrik. Selama baja nirkarat masih mendominasi penyerapan, klaim nikel hijau Indonesia akan terus diuji di pasar global.

Terkini