IHSG Anjlok 2,03 Persen ke 4.928, Saham BCA hingga AMMN Jadi Pemberat

IHSG Anjlok 2,03 Persen ke 4.928, Saham BCA hingga AMMN Jadi Pemberat
IHSG melemah 2,03 persen ke level 4.928,17 pada perdagangan sesi I Kamis (6/11/2026).

CAKAPBISNIS.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 2,03 persen ke level 4.928,17 pada perdagangan sesi I Kamis (6/11/2026), terseret tekanan jual di saham-saham berkapitalisasi besar. Pelemahan IHSG terjadi bersamaan dengan jatuhnya bursa Asia, yang terimbas aksi jual besar-besaran di Wall Street sehari sebelumnya.

IHSG sempat menyentuh titik terendah di 4.927,45 pada awal perdagangan. Hingga pukul 09.27 WIB, indeks tercatat turun 102,10 poin atau 2,03 persen. Menjelang pukul 09.40 WIB, IHSG berhasil memangkas sebagian pelemahan dan bergerak di 4.936,27, turun 93,99 poin atau 1,87 persen.

Dari sisi aktivitas, volume transaksi hingga pukul 09.40 WIB mencapai 58,83 juta lot. Tekanan jual terpusat pada kelompok saham material dasar dan infrastruktur.

Saham BBCA hingga BRMS Menekan Indeks

Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama IHSG. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin kelompok ini, disusul PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

Di sisi lain, sejumlah saham justru menahan koreksi lebih dalam. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM), dan PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) masuk daftar saham penekan koreksi.

Bursa Asia Ikut Terpuruk, Kospi Anjlok 8 Persen

Pelemahan IHSG bukan fenomena tunggal. Bursa saham Asia dibuka melemah pada Jumat (6/11/2026), dengan tekanan terbesar terjadi di Korea Selatan. Indeks Kospi anjlok lebih dari 8 persen hingga tergelincir ke bawah level 5.000.

Indeks Nikkei 225 Jepang turun lebih dari 2 persen. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 melemah 0,9 persen. Pemicunya adalah aksi jual besar-besaran di Wall Street pada Kamis (5/11/2026), yang membuat tiga indeks utama Amerika Serikat mencatat kinerja harian terburuk sejak April 2025.

Indeks Nasdaq Composite terjun 5,5 persen dan ditutup lebih dari 10 persen di bawah level tertinggi terbarunya, sehingga resmi memasuki wilayah koreksi. Indeks S&P 500 terkoreksi 4,4 persen, sementara Dow Jones Industrial Average anjlok lebih dari 1.800 poin atau 3,4 persen.

Dampak ke Investor Ritel dan Portofolio Lokal

Bagi investor ritel, koreksi IHSG pagi ini memangkas nilai portofolio saham, terutama yang terkonsentrasi di saham perbankan dan komoditas. BBCA sebagai pemberat utama menunjukkan tekanan jual menyasar saham dengan bobot besar di indeks, bukan hanya saham lapis kedua.

Tekanan dari luar negeri membuat sentimen pasar domestik sulit membaik dalam jangka pendek. Arus modal asing yang keluar dari bursa Asia, termasuk Indonesia, menjadi faktor yang perlu dicermati pada sesi berikutnya.

Koreksi IHSG hari ini mencerminkan tekanan global yang menjalar ke pasar domestik. Seberapa dalam pelemahan berlanjut akan bergantung pada arah bursa Asia dan respons Wall Street pada perdagangan berikutnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index