CAKAPBISNIS.COM — Konferensi Para Pihak ke-31 (COP31) Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim resmi dibuka di Antalya, Turki, pada 9-20 November. Ajang tahunan ini mempertemukan kepala negara, pejabat senior, akademisi, dan perwakilan masyarakat sipil untuk mengevaluasi kemajuan penanganan perubahan iklim global. Turki memimpin penyelenggaraan dengan tema "COP Masa Depan - COP Implementasi".
Lahan seluas 1,1 juta meter persegi di kota wisata pesisir Mediterania itu disiapkan sebagai venue utama. Sejak pertama digelar di Berlin pada 1995, konferensi tahunan ini menjadi wadah bagi negara-negara pihak konvensi untuk mengevaluasi kemajuan iklim, mengembangkan solusi bersama, dan mengambil keputusan yang membentuk kebijakan global.
Penyelenggaraan COP31 dibangun di atas tiga pilar: dialog, konsensus, dan aksi. Seluruh kegiatan dibagi ke dalam dua kawasan, yakni Zona Biru dan Zona Hijau, dengan fungsi dan akses yang berbeda.
Zona Biru: Pusat Negosiasi Resmi
Negosiasi resmi berdasarkan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, pertemuan tingkat tinggi, dan pembicaraan diplomatik berlangsung di Zona Biru. Akses ke kawasan ini dikendalikan ketat sesuai aturan akreditasi PBB.
Zona Biru juga menjadi lokasi sejumlah kegiatan pendamping, mulai dari diskusi panel soal adaptasi perubahan iklim, energi bersih, nol sampah, kota berkelanjutan, pendanaan iklim, teknologi, kesehatan, hingga transformasi hijau. Fasilitasnya mencakup ruang sidang pleno, kantor delegasi, paviliun, pusat pers dan media, serta restoran.
Sebuah bangunan berbentuk lima kelopak bernama "Terowongan Waktu" seluas 10.000 meter persegi difungsikan sebagai Museum Nol Sampah. Aula pleno terbesar di Zona Biru berkapasitas 1.794 orang dan diberi nama "Anadolu", sementara aula pleno lainnya berkapasitas 828 orang dinamai "Akdeniz".
Dua ruang konferensi pers masing-masing memakai nama ulama sufi sekaligus penyair dunia Mevlana Rumi dan penyair serta tokoh sufi Turki Yunus Emre. Ruang rapat lain di kawasan ini mengadopsi nama tempat bersejarah seperti Selimiye, Gobeklitepe, Topkapi, Cappadocia, Bosphorus, Troy, Ephesus, dan Pamukkale.
Zona Hijau: Ruang Partisipasi Publik
Berbeda dari Zona Biru, Zona Hijau dirancang terbuka untuk mendorong partisipasi masyarakat. Kawasan ini menghadirkan pusat kegiatan tematik yang memungkinkan lembaga pemerintah, pelaku usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan generasi muda berbagi solusi, teknologi, serta praktik terbaik terkait iklim.
Beragam format kegiatan digelar di sini, dari pameran, konser, diskusi panel, lokakarya, hingga aktivitas interaktif. Fasilitasnya meliputi Paviliun Turkiye, Pusat Sains, Industrialisasi Hijau, Kota Tangguh, Energi dan Transportasi, Budaya dan Peradaban, COPArt, serta Zona Perusahaan Rintisan.
Aula terbesar di Zona Hijau berkapasitas 5.000 orang dan diberi nama "Aula Gaza". Ruang rapat lainnya memakai nama tokoh sejarah dan budaya terkemuka, termasuk Ibnu Sina, peraih Nobel Aziz Sancar, Al-Farabi, Mehmet Akif Ersoy, Haci Bektas Veli, dan Osman Hamdi Bey.
Sebagai bagian dari Gerakan Nol Sampah yang telah berkembang global, lokasi COP31 dilengkapi Pusat Nol Sampah, Pusat Praktik dan Lokakarya Nol Sampah, Dapur Nol Sampah Tujuh Wilayah Tujuh Rumah, Museum Nol Sampah, serta Pusat Penyimpanan Sementara dan Pengomposan Nol Sampah.
Warisan Budaya dalam Setiap Ruang
Penamaan ruang rapat dan aula di seluruh lokasi COP31 merujuk pada tempat bersejarah, tokoh, dan unsur budaya yang mencerminkan warisan Anatolia serta peradaban Turkiye-Islam. Zona Hijau juga menghadirkan "Rumah Antalya" yang merefleksikan budaya tradisional masyarakat Yörük, plus paviliun penyu berbahan nol sampah.
"Taman Anatolia" di Zona Hijau menampilkan warisan peradaban kawasan, mulai dari bangsa Het, Frigia, Lidia, dan Likia hingga periode Romawi, Bizantium, Seljuk, dan Ottoman. Kawasan ini menekankan nilai keselarasan dengan alam, keramahan, dan kehidupan berkelanjutan. Zona Biru melengkapinya dengan Taman Kupu-Kupu Tropis yang menawarkan pengalaman interaktif soal alam, ekosistem, dan keanekaragaman hayati.
Bagi Indonesia, COP31 menjadi panggung untuk mendorong komitmen pendanaan iklim dan transisi energi bersih yang selama ini menjadi agenda utama delegasi di forum multilateral. Hasil negosiasi di Antalya akan menentukan arah kebijakan iklim global dalam beberapa tahun ke depan.