PJM Mulai Operasikan STS Transfer di Perairan Nipah Batam

Selasa, 03 November 2026 | 08:03:31 WIB
Kapal bersandar di perairan Nipah, Batam, dalam kegiatan ship-to-ship transfer yang mulai dioperasikan PT Pelindo Jasa Maritim sejak 9 Oktober 2026.

CAKAPBISNIS.COM — PT Pelindo Jasa Maritim resmi menjalankan kegiatan ship-to-ship transfer di perairan Nipah, Batam, sejak 9 Oktober 2026, dengan kapal-kapal perdana berukuran besar mulai bersandar. Layanan alih muat antarkapal ini memperluas kapasitas penanganan kargo di kawasan perbatasan dan berpotensi memangkas waktu tunggu kapal di pelabuhan.

PT Pelindo Jasa Maritim (PJM), sub-holding PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang bergerak di layanan kelautan, peralatan, dan jasa maritim, memperkenalkan cakupan operasionalnya kepada insan pers Batam dalam acara Corporate Communication & Media Engagement Program di Wey Wey Seafood Harbourbay, Sei Jodoh, Batuampar, Senin malam (2/11/2026). Kegiatan itu dihadiri Direktur Utama PJM Arif Hermawan, didampingi SVP Sekretaris Perusahaan Ami Purwa Aditya, Senior Manager Wilayah 1 Sindu Luciantoro Pranowo, dan VP Corporate Communication Feny.

Ship-to-Ship Transfer Mulai Berjalan di Nipah

Arif menyatakan kegiatan ship-to-ship (STS) transfer di perairan Nipah telah dilaksanakan sejak 9 Oktober 2026 dan sudah dikunjungi kapal-kapal perdana berukuran besar. Layanan alih muat langsung antarkapal ini menjadi lini bisnis yang membedakan PJM dari operator jasa maritim lain di Batam.

Persaingan di Batam sendiri semakin ketat. Arif menyebut kini ada delapan Badan Usaha Pelabuhan (BUP) yang beroperasi di wilayah tersebut, sehingga PJM harus menegaskan posisinya di segmen pemanduan dan penundaan.

"Di dalam Pelindo terdapat anak perusahaan, termasuk PJM yang fokus di bidang marine. Untuk lini pengemasan, ada PT Pelindo Terminal Petikemas, Pelindo Multi Terminal, dan Pelindo Logistik. PJM sendiri bergerak di bidang pelayanan pemanduan dan penundaan, di mana kami telah beroperasi di hampir seluruh wilayah Indonesia," ujar Arif.

Dukungan Armada dan Sistem Digital

Sindu menjelaskan wilayah kerja PJM Wilayah 1 mencakup empat provinsi: Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan Kepulauan Riau. Di Kepri, cakupan layanan meliputi Tanjung Balai Karimun, Nipah, Batam, hingga Tanjungpinang (Kijang).

Untuk operasional di perairan Nipah, PJM menyiapkan empat unit kapal pandu dan tiga unit kapal tunda (tugboat). Pengajuan layanan dilakukan melalui sistem digital terintegrasi Inaportnet dan VINCI (Vessel Information System).

"Secara nasional, PJM didukung oleh lebih dari 118 kapal pandu, 1.100 awak kapal, 110 kapal tunda, serta ratusan operator radio dan tenaga pandu berpengalaman. Kami berkomitmen memastikan kelancaran, keamanan, dan keselamatan operasional logistik di pelabuhan-pelabuhan seluruh Indonesia, termasuk di Batam dan perairan Nipah," jelas Sindu.

Dampak bagi Pelaku Logistik dan E-commerce

Bagi pelaku industri logistik, kehadiran layanan STS di Nipah memberi alternatif titik alih muat di jalur pelayaran Selat Malaka yang selama ini padat. Alih muat antarkapal memungkinkan kargo berpindah tanpa harus sandar lama di dermaga, sehingga waktu tempuh dan biaya tambat berpotensi lebih efisien.

Efeknya merambat ke pengiriman barang konsumsi dan paket e-commerce yang masuk melalui Batam dan Tanjungpinang. Kawasan perbatasan ini menjadi pintu masuk distribusi ke sejumlah daerah di Kepri yang selama ini bergantung pada kapal penumpang dan kargo terjadwal.

Namun, manfaat tersebut bergantung pada konsistensi jadwal kapal pandu dan tunda. Dengan delapan BUP bersaing di Batam, koordinasi antarpihak menjadi penentu apakah layanan STS benar-benar mempercepat arus barang atau justru menambah antrean di perairan.

Konteks Pasca-Merger Pelindo

Arif menjelaskan integrasi PT Pelabuhan Indonesia pada 21 Oktober 2021 mengubah struktur pelabuhan nasional. Penamaan Pelindo I hingga IV dilebur menjadi satu entitas tunggal yang menaungi empat sub-holding utama, dengan PJM mengisi segmen marine.

Perubahan struktur itu membuat layanan pemanduan, penundaan, dan alih muat berada dalam satu koordinasi dengan sub-holding terminal petikemas, multi terminal, dan logistik. Bagi pengguna jasa, skema ini seharusnya mempersingkat rantai koordinasi antarjenis layanan di pelabuhan.

Manajemen PJM berharap sinergi dengan insan media terus terjalin sebagai bagian dari keluarga besar maritim di Batam. PJM menyatakan komitmennya memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah dan memperkuat kelancaran jalur logistik nasional di kawasan perbatasan strategis tersebut.

Terkini