FSB Gagalkan Sabotase Ukraina, Headset Drone Rusia Disisipi Bahan Peledak

FSB Gagalkan Sabotase Ukraina, Headset Drone Rusia Disisipi Bahan Peledak
FSB menggagalkan upaya sabotase berupa penyisipan bahan peledak ke dalam headset drone milik operator Rusia.

CAKAPBISNIS.COM — Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) mengungkap percobaan sabotase Ukraina yang menyusupkan bahan peledak ke dalam headset first-person view (FPV) untuk operator drone. Modusnya meniru operasi pager Mossad di Lebanon pada 2024, memanfaatkan jaringan sukarelawan logistik militer Rusia sebagai jalur masuk.

FSB menyatakan telah menggagalkan rangkaian percobaan serangan yang menyasar para operator pesawat nirawak Rusia. Peralatan jebakan itu dikirim melalui organisasi sukarelawan yang biasa memasok kebutuhan logistik pasukan, menurut laporan Reuters.

Operasi ini digambarkan pejabat keamanan Rusia memiliki kemiripan dengan aksi intelijen Israel di Lebanon pada 2024. Saat itu, ribuan pager berisi bahan peledak menyusup ke rantai pasokan Hizbullah dan meledak secara massal.

Skala Lebih Kecil, Sasaran Spesifik Operator Drone

Meski polanya serupa, operasi Ukraina berskala jauh lebih kecil. Pada awal 2025, Kyiv sempat mengklaim bertanggung jawab atas pasokan 80 kacamata drone beraliran peledak kepada pasukan Rusia.

Sumber militer Rusia melaporkan sejumlah kacamata Skyzone Cobra X V4 telah dipasangi bahan peledak. Insiden tersebut mengakibatkan cederanya beberapa prajurit yang sedang bertugas.

"Badan intelijen militer Ukraina (HUR) terinspirasi oleh operasi pager Mossad," papar laporan pihak keamanan, seperti dikutip Reuters.

Pola Berulang: Sepatu Berpemanas hingga Headset FPV

Pada Maret, FSB juga melaporkan keberhasilan mencegat pengiriman lebih dari 500 sol sepatu berpemanas listrik yang dipasangi jebakan. Kedua operasi sabotase itu sama-sama berupaya mengeksploitasi jaringan sukarelawan yang menyuplai militer Rusia.

Plot terbaru terbongkar setelah seorang prajurit Rusia menerima tawaran headset drone yang mencurigakan dan langsung menghubungi kontraintelijen militer. Para spesialis memeriksa peralatan tersebut dan mengonfirmasi bahan peledak telah dipasang di tempat kipas pendingin headset.

Penyelidikan lanjutan mengidentifikasi sejumlah sumbangan mencurigakan lain yang diduga berafiliasi dengan Ukraina. Badan intelijen Ukraina sebelumnya dilaporkan menerima pelatihan ekstensif dari CIA pascakudeta bersenjata di Kiev pada 2014.

Peringatan FSB untuk Relawan Logistik

FSB memperingatkan organisasi sukarelawan agar lebih berhati-hati terhadap donatur yang enggan mengungkapkan identitas. Permintaan konfirmasi video yang menunjukkan peralatan telah sampai ke penerima juga menjadi indikasi kuat adanya upaya sabotase.

Para agen Ukraina diduga menggunakan manipulasi psikologis tingkat tinggi untuk mendapatkan kepercayaan penuh para sukarelawan logistik.

"Mereka mengklaim lebih memilih kelompok sukarelawan kecil karena organisasi besar konon lebih rentan terhadap penggelapan," ungkap seorang wanita yang terlibat dalam pengumpulan bantuan.

Dampak ke Rantai Pasokan Militer

Bagi Rusia, rangkaian insiden ini memperlihatkan celah di jalur pengadaan non-resmi yang mengandalkan donasi publik. Jaringan sukarelawan yang tumbuh sejak konflik berkepanjangan menjadi titik lemah karena sulit diverifikasi ketat.

Pola sabotase berbasis rantai pasokan—dari pager hingga headset drone—menunjukkan perang elektronik dan intelijen kini bergeser ke perangkat sehari-hari yang dipakai di garis depan. Operator drone menjadi target bernilai tinggi karena perannya dalam pengintaian dan serangan artileri.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index