CAKAPBISNIS.COM — TPIA, BRPT, BREN, dan CUAN merealisasikan buyback saham senilai total Rp830,7 miliar hingga awal November 2026. Realisasi itu baru 18,5% dari pagu dana Rp4,5 triliun yang disiapkan keempat emiten. TPIA menyumbang porsi terbesar, yakni Rp518,2 miliar atau 62% dari total.
PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) mencatat realisasi buyback Rp518,2 miliar atau setara 378,43 juta saham hingga 2 November 2026. Angka itu menjadikan TPIA penyumbang terbesar dari total Rp830,7 miliar yang digelontorkan empat emiten terafiliasi Prajogo Pangestu.
Ketiga emiten lainnya menyusul dengan nilai jauh lebih kecil. BRPT membeli kembali 99,10 juta saham senilai Rp121 miliar hingga 30 Oktober 2026, BREN 49,14 juta saham sekitar Rp98 miliar hingga 1 November 2026, dan CUAN 190,45 juta saham senilai Rp93,5 miliar hingga 28 Oktober 2026.
Realisasi tersebut tertuang dalam siaran pers yang dirilis Selasa (3/11/2026).
Pagu Dana Rp4,5 Triliun, Baru Terpakai Seperlima
Keempat emiten menetapkan alokasi dana maksimal berbeda-beda. TPIA menyiapkan hingga Rp2 triliun, BRPT dan BREN masing-masing Rp1 triliun, sementara CUAN Rp500 miliar.
Total pagu mencapai Rp4,5 triliun. Dengan realisasi Rp830,7 miliar, serapan program buyback baru sekitar 18,5% dari plafon yang tersedia.
- TPIA: pagu Rp2 triliun, realisasi Rp518,2 miliar (25,9%)
- BRPT: pagu Rp1 triliun, realisasi Rp121 miliar (12,1%)
- BREN: pagu Rp1 triliun, realisasi Rp98 miliar (9,8%)
- CUAN: pagu Rp500 miliar, realisasi Rp93,5 miliar (18,7%)
Rentang waktu pelaksanaan juga tidak seragam. TPIA masih memiliki ruang hingga 28 Januari 2027, sedangkan BRPT, BREN, dan CUAN dijadwalkan menutup program pada 31 Desember 2026.
Artinya, tiga emiten terakhir punya sisa waktu sekitar dua bulan untuk mengejar serapan pagu. CUAN dan BRPT menjadi yang paling tertinggal secara proporsi.
Kas Internal Jadi Sumber Dana
Manajemen TPIA menyatakan dana buyback berasal dari kas perusahaan. BRPT menegaskan hal serupa dalam keterbukaan informasinya, dengan alasan modal kerja dan arus kas dinilai cukup untuk membiayai program.
Manajemen BRPT juga menyampaikan pelaksanaan buyback tidak akan berdampak negatif secara material terhadap kegiatan operasional maupun pendapatan perseroan.
Bagi pemegang saham, buyback berfungsi menopang harga di pasar sekunder sekaligus memperkecil jumlah saham beredar. Efeknya, laba per saham (EPS) bisa terdorong naik tanpa perlu kenaikan laba bersih.
Namun, besarnya realisasi dibanding pagu menunjukkan program ini belum agresif. Sebagian besar pembelian kemungkinan dilakukan secara bertahap, mengikuti level harga yang dianggap menarik oleh masing-masing manajemen.
Yang Perlu Dicermati Investor
Buyback umumnya memberi sinyal bahwa manajemen menilai harga sahamnya undervalued. Sinyal itu lebih kuat ketika realisasi mendekati pagu, bukan sekadar diumumkan di awal.
Untuk kelompok emiten ini, TPIA menjadi yang paling serius dengan serapan seperempat pagu. BREN justru paling lambat, baru sekitar 9,8% dari plafon Rp1 triliun.
Investor perlu memantau dua hal hingga akhir tahun: laju pembelian harian di sisa periode dan apakah pagu dinaikkan atau justru di