KAI Revitalisasi Stasiun Gambir Dua Tahun, Terhubung ke Monas dan MRT

Jumat, 06 November 2026 | 08:02:32 WIB
Dirut KAI Bobby Rasyidin menyampaikan rencana revitalisasi Stasiun Gambir usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

CAKAPBISNIS.COM — PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyiapkan revitalisasi Stasiun Gambir selama dua tahun agar terintegrasi dengan kawasan Monumen Nasional dan jaringan MRT Jakarta. Rencana itu menjadi bagian dari penataan kawasan Monas yang akan dibangun sebagai satu zona terpadu. Bagi penumpang kereta jarak jauh, proyek ini menjanjikan perpindahan antarmoda yang lebih singkat di jantung ibu kota.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin mengungkapkan rencana revitalisasi Stasiun Gambir seusai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/11/2026). Pertemuan itu membahas percepatan program penataan kawasan di sekitar Monumen Nasional, yang mencakup stasiun kereta api tertua di Jakarta Pusat tersebut.

Revitalisasi Stasiun Gambir tidak berdiri sendiri. Pemerintah menyiapkan kawasan Monas dan taman di sekitarnya sebagai satu area terintegrasi, sehingga stasiun, ruang terbuka, dan jaringan transportasi lain bisa tersambung dalam satu kawasan.

Dua Tahap dan Target Dua Tahun

Bobby menyebut pembangunan Stasiun Gambir akan dijalankan melalui dua tahapan. Seluruh proses revitalisasi diperkirakan memakan waktu dua tahun sejak dimulai.

Rincian tahapan, nilai investasi, dan jadwal mulai konstruksi belum diungkap dalam keterangan tersebut. KAI juga belum memerinci apakah revitalisasi berlangsung sambil melayani penumpang atau disertai pengalihan sementara sebagian layanan ke stasiun lain.

"Percepatan program revitalisasi Stasiun Gambir. Di mana nanti di Monas ini, itu akan dibuat satu kawasan yang terintegrasi semua. Jadi, Monasnya, taman Monasnya direvitalisasi, begitu juga Stasiun Gambirnya," ucap Bobby kepada wartawan.

Mengapa Integrasi dengan MRT Jadi Kunci

Stasiun Gambir selama ini menjadi titik naik-turun penumpang kereta api jarak jauh, terutama layanan kelas eksekutif. Lokasinya berdekatan dengan Monas, tetapi sambungan ke moda lain belum sepenuhnya terpadu dalam satu kawasan pejalan kaki.

Dengan masuknya jaringan MRT Jakarta ke dalam skema, penumpang yang turun dari kereta antarkota bisa melanjutkan perjalanan tanpa keluar dari kawasan. Pola serupa sudah diterapkan di kawasan terpadu seperti kawasan berorientasi transit di Dukuh Atas, yang menghubungkan MRT, KRL, dan transportasi publik lain.

Penataan taman Monas juga memberi nilai tambah bagi kawasan. Ruang terbuka yang lebih tertata berpotensi menaikkan jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara ke pusat kota, sekaligus memperpanjang waktu tinggal penumpang di sekitar stasiun.

Dampak bagi Penumpang dan Warga Jakarta

Yang paling langsung merasakan proyek ini adalah penumpang kereta jarak jauh yang selama ini harus mencari taksi atau ojek daring setelah turun di Gambir. Integrasi dengan MRT memangkas waktu tempuh menuju kawasan bisnis seperti Sudirman dan Thamrin.

Bagi warga yang tinggal di sekitar Gambir dan Monas, penataan kawasan berpotensi mengubah akses jalan, jalur pejalan kaki, dan ruang publik. Pemerintah daerah belum merinci rekayasa lalu lintas yang akan diberlakukan selama masa konstruksi dua tahun.

KAI sendiri belum membeberkan target kapasitas penumpang setelah revitalisasi rampung. Namun arah kebijakannya jelas: stasiun tidak lagi berfungsi sebagai bangunan tunggal, melainkan simpul dalam satu kawasan transit yang menyatukan kereta antarkota, MRT, dan ruang publik Monas.

Proyek ini menempatkan Gambir dalam peta pengembangan transit berorientasi pembangunan di Jakarta, menyusul sejumlah kawasan serupa yang lebih dulu ditata. Jika dua tahun terlaksana sesuai rencana, Gambir akan menjadi gerbang kereta jarak jauh pertama di ibu kota yang menyatu langsung dengan jaringan MRT.

Terkini