Kredit Perbankan Tumbuh 13,26 Persen, Yield Bank Mandiri dan BCA Menyusut

Kredit Perbankan Tumbuh 13,26 Persen, Yield Bank Mandiri dan BCA Menyusut
Kredit perbankan tumbuh 13,26 persen secara tahunan menjadi Rp 9.245 triliun per September 2026.

CAKAPBISNIS.COM — Kredit industri perbankan tumbuh 13,26 persen secara tahunan menjadi Rp 9.245 triliun per September 2026, tetapi imbal hasil kredit justru menurun di sejumlah bank besar. Perlambatan dari pertumbuhan 13,65 persen pada Agustus 2026 itu disertai penyusutan yield Bank Mandiri dan BCA.

Yield Bank Mandiri Turun ke 7,03 Persen

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan yield kredit bank only sebesar 7,03 persen pada kuartal III 2026. Capaian itu turun dari 7,67 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kredit korporasi menjadi segmen dengan yield paling rendah, yakni 6,17 persen. Sebaliknya, kredit mikro dan payroll masih memberi imbal hasil tertinggi sebesar 10,5 persen, disusul kredit konsumer 7,39 persen.

Meski yield menurun, ekspansi kredit Mandiri tetap agresif. Hingga September 2026, kredit korporasi perseroan tumbuh 22,5 persen secara tahunan. Fokus pembiayaan diarahkan ke manufaktur, pemerintah, dan konstruksi, serta sektor energi dan air hingga properti investasi.

BCA: Kredit Konsumer Terkontraksi 2,2 Persen

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat yield kredit 7,93 persen per Agustus 2026, menyusut 0,9 persen secara tahunan. Laju kredit konsumer menjadi yang paling lemah, terkontraksi 2,2 persen pada kuartal III 2026.

Kredit korporasi justru memberi dorongan ekspansi tertinggi dengan pertumbuhan 20,9 persen, disusul kredit UKM sebesar 15,4 persen. Total penyaluran kredit BCA tumbuh 12,6 persen secara tahunan hingga September 2026.

Pembiayaan BCA menyebar ke manufaktur (23,6 persen), perdagangan (19,3 persen), jasa bisnis (13,5 persen), dan transportasi (9,0 persen). Fasilitas kredit investasi maupun modal kerja korporasi masing-masing tumbuh sekitar 20 persen.

Mengapa Yield Kredit Tertekan

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menyebut penurunan yield dipengaruhi persaingan suku bunga antarbank dan penyesuaian bunga kredit. Porsi kredit korporasi dan investasi yang membesar turut menekan imbal hasil, karena bunganya lebih rendah dibanding kredit konsumsi dan UMKM.

"Yield kredit diperkirakan masih tertekan hingga akhir 2026, walau penurunannya berpotensi melambat," ujar Trioksa kepada Kontan, Jumat (6/11/2026).

Strategi Bank Kecil Menjaga Imbal Hasil

Direktur OK Bank Indonesia Efdinal Alamsyah mengatakan perusahaannya membukukan yield kredit 10 persen, ditopang Kredit Tanpa Agunan (KTA). Bank tidak menetapkan sektor tertentu sebagai prioritas utama.

"Dalam penyaluran kredit, Bank tidak menetapkan sektor tertentu sebagai prioritas utama, melainkan lebih menitikberatkan pada prospek usaha, kemampuan pembayaran, dan profil risiko masing-masing debitur," ujar Efdinal.

Strategi itu dipakai untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan profitabilitas. Bagi nasabah, persaingan bunga antarbank bisa berarti bunga kredit lebih ringan, terutama di segmen korporasi dan investasi.

Penutup: Pertumbuhan kredit yang tetap dua digit belum tentu mengangkat pendapatan bunga bank. Selama porsi kredit korporasi dan investasi dominan, tekanan pada yield akan terus membayangi kinerja perbankan hingga akhir 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index