Danantara Bangun Peternakan Ayam Terintegrasi di Malang, Target Rampung Mei 2027

Danantara Bangun Peternakan Ayam Terintegrasi di Malang, Target Rampung Mei 2027
Kepala BP BUMN Dony Oskaria memimpin rapat bersama direksi PTPN I, PTPN III, RNI, dan PT Berdikari di Wisma Danantara.

CAKAPBISNIS.COM — Proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Malang, Jawa Timur, ditargetkan selesai pada Mei 2027 sebagai fasilitas peternakan modern yang dipersiapkan untuk diresmikan Presiden. BP BUMN bersama Danantara mengejar standar teknologi dan kualitas operasional tertinggi agar fasilitas tersebut menjadi acuan industri unggas nasional.

Kepala BP BUMN yang juga COO Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa fasilitas peternakan yang dibangun harus memenuhi standar teknologi dan kualitas operasional terbaik. Integrasi bisnis, menurutnya, perlu ditopang teknologi modern, kebersihan, serta pengelolaan yang tertata dan profesional.

"Nanti saya mau lihat. Jadi ini integratif, peternakan terbaik yang ada di Indonesia. Kelasnya mesti canggih, bersih, tertata," ujar Dony dalam rapat bersama jajaran Direksi PTPN I, PTPN III, RNI, dan PT Berdikari di Wisma Danantara, seperti dikutip dari akun Instagram resmi BP BUMN.

Malang Jadi Lokasi Proyek Percontohan Hilirisasi Ayam

Salah satu fasilitas dalam Proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi berada di Malang, Jawa Timur. Fasilitas itu dipersiapkan sebagai proyek yang akan diresmikan oleh Presiden bersama menteri terkait begitu rampung pada Mei 2027.

Pengembangan kawasan peternakan di daerah, kata Dony, harus mampu menjadi rujukan bagi seluruh industri dalam negeri. Karena itu kualitas manajemen menjadi perhatian utama, termasuk dalam pemilihan lokasi dan pelaksanaan investasi yang dituntut objektif, profesional, serta bebas konflik kepentingan.

"Apapun yang kita lakukan di daerah-daerah itu harus menjadi acuan, benchmark bagi seluruh industri yang ada di Indonesia. Makanya, apa yang kita lakukan sekarang, kita betul-betul sangat concern terhadap kualitas manajemen," ujarnya.

Return on Investment Jadi Patokan, Bukan Besaran Modal

Dony menekankan bahwa keputusan investasi tidak ditentukan oleh besar kecilnya nilai modal yang dikucurkan. Yang menjadi patokan adalah potensi imbal hasil atau return on investment yang bisa dihasilkan dari proyek tersebut.

Setiap investasi, lanjutnya, harus punya prospek bisnis yang jelas dan diarahkan agar perusahaan menjadi pemain unggul di industrinya. Pendekatan itu berlaku juga untuk pengembangan industri unggas terintegrasi yang sedang digarap bersama Danantara.

"Investasi itu bukan berapa besar kecil yang dihitung, tapi return on investment-nya. Selama return on investment-nya bagus, kita mau invest. Jadi tetap dipastikan, masuk dalam satu industri itu harus jadi pemenang," ujar Dony.

Ekosistem Pangan dan Daya Saing Jadi Sasaran Akhir

Melalui proyek ini, BP BUMN dan Danantara berupaya menghadirkan model industri peternakan modern yang kompetitif. Fasilitas terintegrasi berbasis teknologi itu diharapkan memperkuat ekosistem pangan nasional sekaligus menciptakan nilai tambah bagi perekonomian.

Rapat di Wisma Danantara melibatkan jajaran direksi sejumlah perusahaan pelat merah di sektor pangan dan perkebunan, yakni PTPN I, PTPN III, RNI, dan PT Berdikari. Keterlibatan mereka menandakan pengembangan industri unggas ini ditempatkan dalam kerangka kolaborasi antar-BUMN, bukan proyek tunggal satu perusahaan.

Bagi pelaku usaha di sektor unggas, standar baru yang dikejar Danantara berpotensi mengubah peta persaingan, terutama jika fasilitas Malang benar-benar beroperasi dengan skala dan efisiensi tinggi. Efisiensi produksi menjadi kunci, mengingat harga pakan dan biaya operasional selama ini menjadi penentu margin peternak rakyat maupun korporasi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index